POTO DOK Nogey Tebai Dunia remaja adalah dunia yang unik nan keberadaannya senantiasa menjadi bahan perbincangan umum. Dalam renta...
Selasa, 29 Maret 2016
Jumat, 25 Maret 2016
Hidup Seperti Roda Yang Berputar
09.47.00
Hidup Seperti Roda Yang Berputar POTO DOK NBT Hidup ...
Langganan:
Postingan (Atom)
Selasa, 29 Maret 2016
Dunia remaja adalah dunia yang unik nan keberadaannya senantiasa menjadi bahan perbincangan umum.
![]() |
POTO DOK Nogey Tebai |
Dunia
remaja adalah dunia yang unik nan keberadaannya senantiasa menjadi bahan
perbincangan umum. Dalam rentang kehidupan, masa kinilah yang paling mencrang.
Karena sekarang mereka hidup di tengah perkembangan fisik dan psikis yang
sangat cepat. Rona kehidupan mereka laksana kota metropolis yang penuh
warna-warni.
Akan
tetapi perlu kita sadari bahwa remaja adalah sosok yang labil, mudah
terombang-ambing. Fisik mereka memang kelihatan dewasa, namun bila ditinjau
dari segi psikis, mereka belum dewasa, belum mampu bertanggung jawab. Kita bisa
saksikan sendiri, bagaimana kecenderungan mereka terhadap berbagai hal yang
terus berubah. Mulai dari mode pakaian, rambut hingga sepatu. Kalau kita tanya
alasan mereka mengikuti tren tertentu, jawabannya sangat instan. Asal-asalan
dan tidak bertanggung jawab. Kebanyakan hanya menjawab demi gengsi saja,
ikut-ikutan temen, ingin disebut modern, gaul dan lain-lain, nyaris tidak ada
satupun jawaban yang bermuDunia remaja adalah dunia yang unik nan keberadaannya
senantiasa menjadi bahan perbincangan umum. Dalam rentang kehidupan, masa
kinilah yang paling mencrang. Karena sekarang mereka hidup di tengah
perkembangan fisik dan psikis yang sangat cepat. Rona kehidupan mereka laksana
kota metropolis yang penuh warna-warni.
Akan
tetapi perlu kita sadari bahwa remaja adalah sosok yang labil, mudah
terombang-ambing. Fisik mereka memang kelihatan dewasa, namun bila ditinjau
dari segi psikis, mereka belum dewasa, belum mampu bertanggung jawab. Kita bisa
saksikan sendiri, bagaimana kecenderungan mereka terhadap berbagai hal yang
terus berubah. Mulai dari mode pakaian, rambut hingga sepatu. Kalau kita tanya
alasan mereka mengikuti tren tertentu, jawabannya sangat instan. Asal-asalan
dan tidak bertanggung jawab. Kebanyakan hanya menjawab demi gengsi saja,
ikut-ikutan temen, ingin disebut modern, gaul dan lain-lain, nyaris tidak ada
satupun jawaban yang bermuara pada asas manfaat.
Pola
pikir instan seperti inilah yang dibentuk oleh media global. Mereka terus
menerus diberi mimpi, harus beginilah harus begitulah, harus ini-itu, dsb.
Segala produk dicoba dengan harapan mimpinya tercapai yaitu ingin tampak
seperti artis pujaannya. Padahal, kalau mau jujur, mereka hanya pura-pura
memberikan tips-tips kesempurnaan tubuh, yang hakikatnya adalah bisnis semata
dan didasarkan atas UUD.
Alhasil,
remaja modern kini tengah berada di dunia kepura-puraan. Ironisnya, mereka
percaya pada kepura-puraan itu. Saban hari mereka disuguhi 99% tontonan tipi
yang berisi kepura-puraan bahkan kebohongan dan gosip yang justru membodohi
bukannya mendidik. Acara-acara tipi seperti film-film berlabel VHS,
sinetron-sinetron atau gosiptainment yang mereka pergoki tiap hari menyuguhkan
berbagai kepura-puraan yang sangat ironi. Mereka semuanya menawarkan gaya hidup
glamour, mewah dan pergaulan bebas sebebas-bebasnya. Sebuah idiologi tandingan
ditengah masyarakat yang mayoritas agamis. Ironisnya lagi, tayangan tersebut
laku keras di pasaran alias paling disukai penonton dan bintang utamanya pun
tak ayal dijadikan panutan sekalipun tanpa alasan yang jelas. Begitu pula
iklan-iklan yang menawarkan penyembuhan tuntas dan gaya hidup ‘wah’ dengan klip
yang bebas moral, juga sarat kepura-puraan.
Di
dunia kepura-puraan tidak mengenal istilah percaya atau tidak, yang ada adalah
hanya kesenangan semu. Pemirsa “dipaksa” percaya pada berbagai tayangan hingga
terkadang harus mengaduk-aduk emosinya sendiri bahkan sampai terbawa ke alam
mimpi. Tak heran jika para remaja tergiur oleh dunia kepura-puraan, bermimpi
mendambakan tubuh seperti model dalam iklan dan film. Bahkan jika ada
keajaiban, remaja menginginkan persis seperti mereka. Itulah dunia
kepura-puraan.
Dampaknya
pun bukan main, berbagai tindak kriminal berupa free sex, aborsi dan kekerasan
di dunia remaja hakekatnya ‘didikan’ dari dunia kepura-puraan. Contohnya pun
banyak, anak belasan tahun kini sudah bisa punya anak berkat gelar MBA, tawuran
antar kampus yang nekat berperang sampai mampus, geng motor maniak yang bengis
dengan galak dan sadis meneror warga, dll. Tindakan kriminal seperti KKN pun
terjadi di jajaran elit dan penguasa, yang hakikatnya implikasi dari dunia
kepura-puraan juga. Mengapa tidak, bukankah sinetron dan film-film itu selalu
menawarkan enaknya kehidupan mewah? Maka, jalan pintas menuju kemewahan itu tak
lain melalui KKN.
Walhasil,
kebobrokan mental berserakan dimana-mana, kelaparan merajalela, jurang antara
si kaya dan si miskin semakin lebar. Praktek korupsi, merampok, tawuran,
membunuh, perkosaan, seks bebas, dan lain-lain bukan lagi suatu aib, semuanya
dianggap biasa-biasa saja bahkan mungkin dianggap hanya hiburan belaka.
Pantas
jika Neil Postman dalam bukunya “Amusing Ourselves to Death“, menulis bahwa
saat ini orang tengah menghibur diri terus sampai mati! Hal itu dikarenakan
format tipi ditujukan untuk hiburan semata dan bukan untuk sarana pendidikan.
Oleh
karena itu, bagi diri remaja sendiri, hendaknya bisa berpikir
dewasa, kritis dan bermental baja. Remaja masa kini harus memiliki kesadaran
nurani yang tinggi, tidak begitu saja mengekor atau mencontoh segala yang
ditayangkan media massa terutama tipi. Mengingat, kekaguman terhadap tokoh
dunia kepura-puraan secara berlebihan, bukan saja memancing frustasi, tetapi
juga membentuk sikap mental minder, merasa tidak puas terhadap apa yang
dimiliki, baik kecantikan, pakaian atau tubuh. Sikap ini akan menimbulkan pola
hidup konsumeris dan serba kekurangan.ara pada asas manfaat.
Pola
pikir instan seperti inilah yang dibentuk oleh media global. Mereka terus
menerus diberi mimpi, harus beginilah harus begitulah, harus ini-itu, dsb.
Segala produk dicoba dengan harapan mimpinya tercapai yaitu ingin tampak
seperti artis pujaannya. Padahal, kalau mau jujur, mereka hanya pura-pura
memberikan tips-tips kesempurnaan tubuh, yang hakikatnya adalah bisnis semata
dan didasarkan atas UUD.
Alhasil,
remaja modern kini tengah berada di dunia kepura-puraan. Ironisnya, mereka
percaya pada kepura-puraan itu. Saban hari mereka disuguhi 99% tontonan tipi
yang berisi kepura-puraan bahkan kebohongan dan gosip yang justru membodohi
bukannya mendidik. Acara-acara tipi seperti film-film berlabel VHS,
sinetron-sinetron atau gosiptainment yang mereka pergoki tiap hari menyuguhkan
berbagai kepura-puraan yang sangat ironi. Mereka semuanya menawarkan gaya hidup
glamour, mewah dan pergaulan bebas sebebas-bebasnya. Sebuah idiologi tandingan
ditengah masyarakat yang mayoritas agamis. Ironisnya lagi, tayangan tersebut
laku keras di pasaran alias paling disukai penonton dan
bintang utamanya pun tak ayal dijadikan panutan sekalipun tanpa alasan yang
jelas. Begitu pula iklan-iklan yang menawarkan penyembuhan tuntas dan gaya
hidup ‘wah’ dengan klip yang bebas moral, juga sarat kepura-puraan.
Di
dunia kepura-puraan tidak mengenal istilah percaya atau tidak, yang ada adalah
hanya kesenangan semu. Pemirsa “dipaksa” percaya pada berbagai tayangan hingga
terkadang harus mengaduk-aduk emosinya sendiri bahkan sampai terbawa ke
alam mimpi. Tak heran jika para remaja tergiur oleh dunia kepura-puraan,
bermimpi mendambakan tubuh seperti model dalam iklan dan film. Bahkan jika ada
keajaiban, remaja menginginkan persis seperti mereka. Itulah dunia
kepura-puraan.
Dampaknya
pun bukan main, berbagai tindak kriminal berupa free sex, aborsi
dan kekerasan di dunia remaja hakekatnya ‘didikan’ dari dunia kepura-puraan.
Contohnya pun banyak, anak belasan tahun kini sudah bisa punya anak berkat
gelar MBA, tawuran antar kampus yang nekat berperang sampai mampus,
geng motor maniak yang bengis dengan galak dan sadis meneror warga, dll.
Tindakan kriminal seperti KKN pun terjadi di jajaran elit dan penguasa, yang
hakikatnya implikasi dari dunia kepura-puraan juga. Mengapa tidak, bukankah
sinetron dan film-film itu selalu menawarkan enaknya kehidupan mewah? Maka,
jalan pintas menuju kemewahan itu tak lain melalui KKN.
Walhasil,
kebobrokan mental berserakan dimana-mana, kelaparan merajalela, jurang antara
si kaya dan si miskin semakin lebar. Praktek korupsi, merampok, tawuran,
membunuh, perkosaan, seks bebas, dan lain-lain bukan lagi suatu aib, semuanya
dianggap biasa-biasa saja bahkan mungkin dianggap hanya hiburan belaka.
Pantas
jika Neil Postman dalam bukunya “Amusing Ourselves to Death“, menulis
bahwa saat ini orang tengah menghibur diri terus sampai mati! Hal itu
dikarenakan format tipi ditujukan untuk hiburan semata dan bukan untuk sarana
pendidikan.
Oleh
karena itu, bagi diri remaja sendiri, hendaknya bisa berpikir dewasa, kritis
dan bermental baja. Remaja masa kini harus memiliki kesadaran nurani yang
tinggi, tidak begitu saja mengekor atau mencontoh segala yang ditayangkan media
massa terutama tipi. Mengingat, kekaguman terhadap tokoh dunia kepura-puraan
secara berlebihan, bukan saja memancing frustasi, tetapi juga membentuk sikap
mental minder, merasa tidak puas terhadap apa yang dimiliki, baik kecantikan,
pakaian atau tubuh. Sikap ini akan menimbulkan pola hidup konsumeris dan serba
kekurangan.
Jumat, 25 Maret 2016
Hidup Seperti Roda Yang Berputar
![]() |
POTO DOK NBT |
Hidup ini bagai roda, kadang kita di atas, semua terasa mudah, kadang kita di bawah, semua terasa sulit, dipergilirkan, satu sama lain sungguh dipergilirkanItulah kenapa kita tidak harus sombong, menyakiti saudara sendiri, merendahkan teman saat posisi kita di atas, karena besok lusa, boleh jadi kitalah dalam posisi susah, sulit, dan harus meminta pertolongan kepada orang yang pernah kita sakiti.
Maka, berbahagialah orang2 yang memahami hal ini, dan mampu menjaga dirinya dari perbuatan tersebut.
Dan sungguh, lebih berbahagia lagi orang2 yang sudah pernah disakiti, direndahkan, tapi tetap memilih untuk membalas orang yang menyakitinya dengan penuh kebaikan, tak kurang walau semili ketulusan dalam hatinya.
Langganan:
Postingan (Atom)