Friday 4, Apr 2025

728x90 AdSpace

Diberdayakan oleh Blogger.
Sabtu, 23 Juli 2016

Danau Makamo Hidup Seperti Lembaran Kertas “BUKU”

POTO DOK NBT


Hidup Seperti Lembaran Kertas “BUKU”

Oleh: Frans Pigai
Dimana halaman pertama aku tulis  nama Tuhan dan orang tuaku (Ayah; Yulianus Pigai, nama samaran Pigai Podepai/Pigaiboo dan Ibu; Agustina Enago Mote, nama samaran Motenagoo), karena tanpa  mereka aku tidak akan dapatkan dunia ini  dan ada pula di dunia seperti ini. Namun, tanpa Ayah, pasti hilangnya kehormatan dan harapan dan tanpa Ibu, pasti hilang kasih sayang, apalagi tanpa Tuhan, pasti kehidupan akan hampa dan hilang semuanya.
Di halaman selanjutnya, aku tulis nama sahabat-sahabatku, terutama sahabat jantungku “Fabby Pigome” karena merekalah yang selalu mengerti perasaan kehidupan aku. Andaikan saja, sendal bisa hilang dan bisa pula digantikan kembali dengan sepatu, tapi cinta dan sahabat tidak bisa hilang karena  tidak ada yang bisa digantikan sahabat dan cinta dan susah akan mencarinya untuk mendapatkannya.
Lalu aku buka sampai bagian tengah, aku tulis nama orang-orang yang pernah menyakitku, membunuhku, memperkosaku, menindasku, dan merampas harta kekayaanku “hai kau Indonesia” di atas tanah rakyat West Papua karena bagian tengah mudah di sobek lalu di buang atau di bakar.
Di halaman terakhir, aku tulis namamu dan nama bangsaku, karena kamu adalah orang yang aku sayang dan bangsa yang ku cintai untuk selamanya sampai akhir  di buku kehidupanku. Semuanya ini karena awal keberangkatan dari kasih sayang. Maka, jika aku tersenyum itu karena aku ingat kamu dan tanahku, jika aku kangen karena aku belum melihat wajahmu dan kebebasan tanah West Papua, dan jika aku doakan itu karena  aku ingin Tuhan jaga dan lindungi kamu dan tanah dan rakyat bangsa Papua  selalu, sayangku dan Bangsa dan Negaraku West Papua.
Ada pula uang berkata, “dapatkan aku, lupakan segalanya”. Waktu berkata “ikuti aku, lupakan segalanya”. Masa depan berkata “berjuanglah untuk aku, lupakan segalanya”. Akan tetapi, Allah dengan sederhana berkata, “ingatlah aku dan aku akan memberikanmu segalanya, karena segalanya yang ada di bumi bersumber atau datang dari aku (Allah)”.
Pada umumnya, perjuangan adalah awal proses kemajuan diri, beradaptasi dalam dunia pendidikan, ekonomi, politik, sosila-budaya, agama, dan masalah sosial lainnya. Kita harus membangun sebuah masa depan yang beradab, dimana setiap orang (kita) yang hidup disana dapat merasakan dan menikmati adanya penghormatan terhadap kemanusiaan, penghargaan terhadap Tuhan. Itu  hanya ada setelah kita memasuki gerbang hidup baru yang namanya kemerdekaan Bangsa Papua Barat.

Yamewaa Wisma Pana’s.
Kamis, 28 Mei 2015
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

bagi siapa kritik atau melengkapi posttingan blog ini kami disini terbuka.

Item Reviewed: Hidup Seperti Lembaran Kertas “BUKU” Rating: 5 Reviewed By: Danau Makamo

Sabtu, 23 Juli 2016

Hidup Seperti Lembaran Kertas “BUKU”

POTO DOK NBT


Hidup Seperti Lembaran Kertas “BUKU”

Oleh: Frans Pigai
Dimana halaman pertama aku tulis  nama Tuhan dan orang tuaku (Ayah; Yulianus Pigai, nama samaran Pigai Podepai/Pigaiboo dan Ibu; Agustina Enago Mote, nama samaran Motenagoo), karena tanpa  mereka aku tidak akan dapatkan dunia ini  dan ada pula di dunia seperti ini. Namun, tanpa Ayah, pasti hilangnya kehormatan dan harapan dan tanpa Ibu, pasti hilang kasih sayang, apalagi tanpa Tuhan, pasti kehidupan akan hampa dan hilang semuanya.
Di halaman selanjutnya, aku tulis nama sahabat-sahabatku, terutama sahabat jantungku “Fabby Pigome” karena merekalah yang selalu mengerti perasaan kehidupan aku. Andaikan saja, sendal bisa hilang dan bisa pula digantikan kembali dengan sepatu, tapi cinta dan sahabat tidak bisa hilang karena  tidak ada yang bisa digantikan sahabat dan cinta dan susah akan mencarinya untuk mendapatkannya.
Lalu aku buka sampai bagian tengah, aku tulis nama orang-orang yang pernah menyakitku, membunuhku, memperkosaku, menindasku, dan merampas harta kekayaanku “hai kau Indonesia” di atas tanah rakyat West Papua karena bagian tengah mudah di sobek lalu di buang atau di bakar.
Di halaman terakhir, aku tulis namamu dan nama bangsaku, karena kamu adalah orang yang aku sayang dan bangsa yang ku cintai untuk selamanya sampai akhir  di buku kehidupanku. Semuanya ini karena awal keberangkatan dari kasih sayang. Maka, jika aku tersenyum itu karena aku ingat kamu dan tanahku, jika aku kangen karena aku belum melihat wajahmu dan kebebasan tanah West Papua, dan jika aku doakan itu karena  aku ingin Tuhan jaga dan lindungi kamu dan tanah dan rakyat bangsa Papua  selalu, sayangku dan Bangsa dan Negaraku West Papua.
Ada pula uang berkata, “dapatkan aku, lupakan segalanya”. Waktu berkata “ikuti aku, lupakan segalanya”. Masa depan berkata “berjuanglah untuk aku, lupakan segalanya”. Akan tetapi, Allah dengan sederhana berkata, “ingatlah aku dan aku akan memberikanmu segalanya, karena segalanya yang ada di bumi bersumber atau datang dari aku (Allah)”.
Pada umumnya, perjuangan adalah awal proses kemajuan diri, beradaptasi dalam dunia pendidikan, ekonomi, politik, sosila-budaya, agama, dan masalah sosial lainnya. Kita harus membangun sebuah masa depan yang beradab, dimana setiap orang (kita) yang hidup disana dapat merasakan dan menikmati adanya penghormatan terhadap kemanusiaan, penghargaan terhadap Tuhan. Itu  hanya ada setelah kita memasuki gerbang hidup baru yang namanya kemerdekaan Bangsa Papua Barat.

Yamewaa Wisma Pana’s.
Kamis, 28 Mei 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

bagi siapa kritik atau melengkapi posttingan blog ini kami disini terbuka.