![]() |
POTO DOK NBT |
Sistem pengendalian
manajemen memengaruhi perilaku manusia. Sistem pengendalian manajemen yang baik
memengaruhi perilaku yang sedemikian rupa sehingga memiliki tujuan yang
selaras, artinya tindakan-tindakan individu yang dilakukan untuk meraih
tujuan-tujuan pribadi juga akan membantu untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.
Organisasi merupakan
suatu perkumpulan orang yang memiliki tujuan bersama untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Organisasi berbeda dari sekedar sekumpulan orang karena mempunyai
tujuan yang spesifik dan memiliki struktur yang lebih formal, terbentuk
bilamana beberapa orang bergabung, menjalankan dan mengkoordinasikan tugas dan
tanggung jawab untuk tujuan tertentu. Dapat dikatakan pula bahwa organisasi
sebagai usaha mendapatkan sumber daya dan memanfaatkannya, diharapkan dengan
cara yang efisien, untuk menghasilkan keluaran berupa barang dan jasa.
Perilaku organisasi
merupakan pembelajaran tentang suatu sifat atau karakteristik individu yang
tercipta di lingkungan suatu organisasi. Karena manusia berbeda – beda
karakteristik, maka perilaku organisasi berguna untuk mengetahui sifat – sifat
individu dalam berkinerja suatu organisasi. Pembelajaran perilaku organisasi
akan mengetahui tentang cara – cara mengatasi masalah yang ada di lingkungan
organisasi.
A. Organisasi
1.
Teori Organisasi
a.
Teori Organisasi yang Berorientasi ke Dalam
Teori ini mencakup baik
struktur formal maupun informal. Struktur informal memandang organisasi sebagai
kumpulan orang yang terlibat pada kegiatan-kegiatan informal terbuka dan
partisitipasif untuk mencapai tujuan. Organisasi formal berorientasi ke dalam
menganggap bahwa dalam menghadapi manusia, manajemen harus memperlakukan mereka
sebagai elemen pasif yang harus diarahkan, dimotivasi, diawasi, dan
dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan organisasi.
b.
Teori Organisasi yang Berorientasi ke Luar
Teori ini mengatakan
bahwa dalam organisasi saling berhubungan dengan lingkungannya. Organisasi yang
berorientasi pada sistem seperti ini di antaranya, Organisasi sistem umum
didasarkan pada teori teori sistem umum. Teori ini mengasumsikan adanya
hubungan yang terus menerus antara lingkungan dan organisasi. Teori ini
mengasumsikan bahwa akan memungkinkan manajer lokal untuk menyesuaikan dengan
perubahan yang terjadi di lingkungannya. Organisasi sistem manajemen didesain
untuk memotivasi para manajer agar mengkoordinasi dan menyatukan strategi
dengan perilaku manusia.
2.
Tujuan Organisasi
Meskipun kita sering
mengacu pada apa yang disebut sebagai tujuan-tujuan perusahaan, suatu
perusahaan tidak memunyai tujuan, pada hakikatnya perusahaan adalah satuan
artifisial yang tidak punya pikiran maupun kemampuan mengambil keputusan
sendiri. Tujuan perusahaan ditentukan oleh pejabat utama eksekutif (CEO)
perusahaan yang bersangkutan. Pada banyak perusahaan, tujuan-tujuan perusahaan
biasanya dirancang oleh para pendirinya serta berlaku untuk generasi-generasi
selanjutnya.
a.
Tujuan Organisasi Laba Profitabilitas
Dalam bisnis, kapasitas
untuk menghasilkan laba biasanya merupakan tujuan yang paling penting.
“Profitabilitas” ini lebih mengacu pada laba dalam jangka panjang, bukannya
laba pada kuartal atau tahun. Sejumlah CEO hanya menekankan aspek equasi pada
kemampuan untuk menghasilkan laba itu. Akan tetapi, CEO lain menekankan
penghasilan dari alasan yang berbeda, karena bagi mereka ukuran perusahaan
adalah tujuan tersendiri. Sementara sejumlah CEO yang lain lebih memfokuskan
laba baik sebagai satuan jumlah uang maupun sebagai persentase pendapatan.
b.
Memaksimalkan Nilai Pemegang Saham
Pertama, istilah
“memaksimalkan” artinya adalah selalu ada cara untuk mendapatkan jumlah
maksimum yang dapat dihasilkan oleh sebuah perusahaan. Kedua, meskipun upaya
mengoptimalkan nilai pemegang saham mungkin menjadi tujuan utama, namun ini
bukan berarti merupakan satu-satunya tujuan bagi banyak organisasi.
c.
Resiko
Upaya sebuah organisasi
perusahaan untuk meningkatkan kemampuannya dalam meraih laba sangat dipengaruhi
oleh kemauan pihak manajemen untuk mengambil resiko. Tingkat pengambilan
resiko sangat bervariasi, disesuaikan dengan masing-masing orang di jajaran
manajemen. Akan tetapi, selalu ada batas maksimum, sejumlah organisasi
perusahaan secara terang-terangan menyatakan bahwa tanggung jawab utama
manajemen adalah menjaga aset-aset perusahaan, dimana kemampuan perusahaan
untuk meningkatkan laba hanya menjadi tujuan sekunder.
d.
Pendekatan Multiple Stakeholder
Sebuah
perusahaan bertanggung jawab kepada multiple stakeholders ini,
yaitu para pemegang saham, konsumen, para pegawai, para pemasok, dan
berbagai komunitas. Secara ideal, sistem pengendalian manajemennya harus
mengidentifikasi tujuan-tujuan dari setiap kelompok ini dan mengembangkan
sistem penilaian untuk menilai performa mereka.
B. Perilaku dalam Organisasi
1.
Pengertian Perilaku dalam Organisasi
Pengertian perilaku
organisasi menurut beberapa ahli :
·
Joe.Kelly, perilaku organisasi
adalah suatu bidang studi yang mempelajari sifat-sifat organisasi, termasuk
bagaimana organisasi di bentuk, tumbuh dan berkembang.
·
Adam Indrawijaya, perilaku organisasiadalah
suatu bidang studi yang mempelajari semua aspek yang berkaitan dengan tindakan
manusia, baik aspek pengaruh anggota terhadap organisasi maupun pengaruh
organisasi terhadap anggota.
·
Sutrisna Hari, MM,
perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang mempelajari dinamika
organisasi sebagai hasil interaksi dari sifat khusus (karakteristik) anggota
dan sifat khusus (karakteristik) para anggotannya dan pengaruh lingkungan.
·
Stephen P. Robbins,
perilaku Organisasi adalah bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan,
kelompok, dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan
pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keefektifan organisasi.
2.
Teori Perilaku Organisasi
Untuk memenuhi
keingintahuan tentang bagaimana orang berperilaku dalam organisasi terdapat dua
teori yang memaparkannya, yaitu :
a.
Teori Jenjang Kebutuhan
Manusia
mempunyai banyak kebutuhan dan keinginan yang tersusun sedemikian hingga, bila
satu kebutuhan telah terpenuhi maka manusia tersebut akan berusaha memenuhi
tingkat kebutuhan yang lebih tinggi lagi. Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan
hidup yang akan selalu berusaha untuk dipenuhi sepanjang masa hidupnya. Lima
tingkatan yang dapat membedakan setiap manusia dari sisi kesejahteraan
hidupnya. Kebutuhan tersebut berjenjang dari yang paling mendesak hingga yang
akan muncul dengan sendirinya saat kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi. Setiap
orang pasti akan melalui tingkatan-tingkatan itu, dan dengan serius berusaha
untuk memenuhinya, namun hanya sedikit yang mampu mencapai tingkatan tertinggi
dari piramida ini. Teori ini menyiratkan bahwa Sistem Pengendalian Manajemen
haruslah didasarkan pada keinginan manusia untuk memuaskan, yang berbeda
disetiap saat, untuk setiap keadaaan dan bagi orang yang berbeda.
·
Kebutuhan Fisiologis
Manifestasi kebutuhan ini
terlihat dalam tiga hal pokok, sandang, pangan dan papan. Bagi karyawan,
kebutuhan akan gaji, uang lembur, perangsang, hadiah-hadiah dan fasilitas
lainnya seperti rumah, kendaraan dan lain-lain. Menjadi motif dasar dari
seseorang mau bekerja, menjadi efektif dan dapat memberikan produktivitas yang
tinggi bagi organisasi.
·
Kebutuhan Keamanan
Kebutuhan ini mengarah
kepada rasa keamanan, ketenteraman dan jaminan seseorang dalam kedudukannya,
jabatannya, wewenangnya dan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dia dapat
bekerja dengan antusias dan penuh produktivitas bila dirasakan adanya jaminan
formal atas kedudukan dan wewenangnya.
·
Kebutuhan Sosial (Kasih Sayang)
Kebutuhan akan kasih
sayang dan bersahabat (kerjasama) dalam kelompok kerja atau antar kelompok.
Kebutuhan akan diikutsertakan, meningkatkan relasi dengan pihak-pihak yang
diperlukan dan tumbuhnya rasa.
·
Kebutuhan Akan Penghargaan
Kebutuhan akan kedudukan
dan promosi dibidang kepegawaian.
·
Kebutuhan Aktualisasi Diri
Setiap orang ingin
mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk
mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal
yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Pada tingkat ini
diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri
dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang
lebih tinggi.
b.
Teori Motivasi Pencapaian
Teori ini mengenai
perilaku manajer dalam organisasi mengatakan bahwa seseorang dipengaruhi
keinginannya untuk berhasil, berkuasa, dan kebutukan akan pergaulan. Teori ini
menyiratkan bahwa Sistem Pengendalian Manajemen dalam menggunakan struktur
imbalan dan hukuman haruslah didasarkan pada motif-motif ini.
McClelland menyatakan
ada 3 keperluan yang penting untuk motivasi kerja, yaitu :
·
Kebutuhan akan Prestasi (n-ACH)
Kebutuhan akan prestasi
merupakan dorongan untuk mengungguli, berprestasi sehubungan dengan seperangkat
standar, bergulat untuk sukses. Ciri-ciri inidividu yang menunjukkan orientasi
tinggi antara lain bersedia menerima resiko yang relatif tinggi, keinginan
untuk mendapatkan umpan balik tentang hasil kerja mereka, keinginan mendapatkan
tanggung jawab pemecahan masalah.
n-ACH adalah motivasi
untuk berprestasi , karena itu karyawan akan berusaha mencapai prestasi
tertingginya, pencapaian tujuan tersebut bersifat realistis tetapi menantang,
dan kemajuan dalam pekerjaan. Karyawan perlu mendapat umpan balik dari
lingkungannya sebagai bentuk pengakuan terhadap prestasinya tersebut.
·
Kebutuhan akan Kekuasaan (n-pow)
Kebutuhan akan kekuasaan
adalah kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara dimana
orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan berperilaku demikian atau suatu bentuk
ekspresi dari individu untuk mengendalikan dan memengaruhi orang lain.
McClelland menyatakan bahwa kebutuhan akan kekuasaan sangat berhubungan dengan
kebutuhan untuk mencapai suatu posisi kepemimpinan.
n-pow
adalah motivasi terhadap kekuasaan. Karyawan memiliki motivasi untuk
berpengaruh terhadap lingkungannya, memiliki karakter kuat untuk memimpin dan
memiliki ide-ide untuk menang. Ada juga motivasi untuk peningkatan status
dan prestise pribadi.
·
Kebutuhan untuk berafiliasi atau bersahabat
(n-affil)
Kebutuhan akan afiliasi
adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Individu
merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan
penuh sikap persahabatan dengan pihak lain. Individu yang mempunyai kebutuhan
afiliasi yang tinggi umumnya berhasil dalam pekerjaan yang memerlukan interaksi
sosial yang tinggi.
3.
Unsur Utama Perilaku Organisasi
Secara keseluruhan dalam
mempelajari perilaku organisasi tercakup 4 (empat) unsur utama yaitu :
1. Aspek
psikologi tindakan manusia itu sendiri sebagai hasil studi psikologi.
2. Pandangan
Ekonomi. Uang misalnya merupakan salah satu faktor pertimbangan mengapa
seseorang memasuki organisasi.
3. Perilaku
organisasi sebagai suatu disiplin mengakui bahwa individu dipengaruhi oleh
bagaimana diatas dan siapa yang mengawasi mereka. Oleh sebab itu struktur
organisasi menyerap peranan penting dalam membahas perilaku organisasi.
4. Walaupun
disadari akan adanya keunikan masing masing individu, perilaku organisasi lebih
banyak menekankan pada tuntutan manajer bagi tercapainya tujuan organisasi
secara keseluruhan. Dengan demikian selalu diusahakan agar usaha masing masing
individu selaras dengan tujuan organisasi
4.
Dimensi Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi
mempunyai tiga dimensi konsep, yaitu :
a.
Dimensi Konsep
Sebuah rancangan khusus
yang dijadikan sebagai acuan dalam menjalankan sebuah organisasi, artinya
setiap gerak atau kegiatan yang akan dilaksanakan tetap mengacu pada pedoman
yang telah dibuat oleh seluruh atau sebagian anggota organisasi yang mempunyai
wewenang.
b.
Dimensi Sistem
Dimensi sistem mencakup
bagaimana proses manajemen yang dilakukan untuk melakukan suatu kegiatan secara
efektif dan efisien yang di kemas dengan pendekatan-pendekatan matematis atau
logika.c. Dimensi Manusia
Dimensi manusia, adalah
dimensi yang paling utama dalam sebuah organisasi karena tanpa adanya dimensi
manusia otomatis suatu organisasi tidak akan pernah ada karena tidak ada yang
membuat organisasi dalam arti membentuk sebuah organisasi dan tidak ada
penggerak yang melakukan suatu kegiatan organisasi tersebut. Sehingga dapat
dikatakan kalau dimensi manusia merupakan dimensi yang komplek dalam sebuah
organisasi. Namun, tetap saja dimensi manusia tidak akan berfungsi secara utuh
jika dimensi sistem dan konsep tidak ada.
Manajemen
senior menginginkan agar organisasi mencapai tujuan organisasi. Tetapi anggota
individual organisasi mempunyai tujuan pribadi masing-masing yang tidak selalu
konsisten dengan tujuan organisasi. Dengan demikian tujuan utama dari sistem
pengendalian manajemen adalah memastikan (sejauh mungkin) tingkat “ keselarasan
tujuan (goal congruence) ” yang tinggi. Dalam proses yang sejajar dengan tujuan, manusia diarahkan untuk
mengambil tindakan yang sesuai dengan kepentingan pribadi mereka sendiri, yang
sekaligus juga merupakan kepentingan perusahaan.
Masing – masing anggota
organisasi memiliki tujuan pribadi dan semua ini tidak selalu selaras dengan
tujuan organisasi. Sistem pengendalian yang memadai setidaknya tidak akan
mendorong individu untuk bertindak melawan kepentingan organisasi. Misalnya,
bila sistem menekankan pada pengurangan biaya dan manajer merespons dengan cara
mengurangi biaya dalam unit nya sendiri dengan cara mengalokasikan jumlah yang
lebih besar ke unit lain, maka manajer telah termotivasi, tetapi kearah yang
keliru.
Dalam mengevaluasi
praktik pengendalian manajemen, ada dua pertanyaan penting yang diajukan :
1. Tindakan apa yang
memotivasi orang untuk bertindak demi kepentingan diri mereka sendiri?
2. Apakah
tindakan-tindakan ini sesuai dengan kepentingan organisasi tersebut?
·
Faktor – Faktor Informal yang Memengaruhi
Keselarasan Tujuan
Baik sistem formal maupun
proses informal memengaruhi perilaku manusia dalam organisasi perusahaan,
konsekuensinya, kedua hal tersebut akan berpengaruh pada tingkat pencapaian
keselarasan tujuan. Besarnya perbedaan diantara tujuan-tujuan organisasi,
kelompok, dan pribadi menentukan tingkat kesukaran tugas sistem pengendalian
manajemen. Tanggung jawab utama dari sistem pengendalian manajemen adalah
memastikan tindakan-tindakan yang paling baik bagi kepentingan organisasi,
tetapi ia juga harus mengupayakan keselarasan tujuan sedapat mungkin. Makin
erat hubungan antara tujuan-tujuan yang ada, makin baiklah sistem pengendalian manajemennya.
a.Faktor-faktor
Eksternal
Faktor-faktor eksternal
adalah norma-norma mengenai perilaku yang diharapkan dalam masyarakat, di mana
organisasi menjadi bagiannya. Norma-norma ini mencakup sikap, yang secara
kolektif sering juga disebut etos kerja, yang diwujudkan melalui loyalitas
pegawai terhadap organisasi, keuletan, semangat, dan kebanggaan yang dimiliki
oleh pegawai dalam menjalankan tugas secara tepat waktu. Beberapa sikap diatas
bersifat lokal yaitu spesifik untuk kota atau wilayah dimana organisasi
beroperasi.
1.
Loyalitas
Dalam melaksanakan
kegiatan kerja karyawan tidak akan terlepas dari loyalitas dan sikap kerja,
sehingga dengan demikian karyawan tersebut akan selalu melaksanakan pekerjaan
dengan baik. Karyawan merasakan adanya kesenangan yang mendalam terhadap
pekerjaan yang dilakukan.
Hasibuan
(2001), mengemukakan bahwa loyalitas kerja atau kesetiaan merupakan
salah satu unsur yang digunakan dalam penilaian karyawan yang mencakup
kesetiaan terhadap pekerjaannya, jabatannya dan organisasi. Kesetiaan ini
dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga dan membela organisasi di dalam
maupun di luar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak bertanggungjawab.
Loyalitas
para karyawan dalam suatu organisasi itu mutlak diperlukan demi kesuskesan
organisasi itu sendiri. Menurut Reichheld, semakin
tinggi loyalitas para karyawan di suatu organisasi, maka semakin mudah bagi
organisasi itu untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan
sebelumnya oleh pemilik organisasi (Utomo, 2002, p.9).
Sedangkan untuk sebaliknya, bagi organisasi yang loyalitas para karyawannya
rendah, maka semakin sulit bagi organisasi tersebut untuk mencapai
tujuan-tujuan organisasinya yang telah ditetapkan sebelumnya oleh para pemilik
organisasi.
2.
Keuletan
Dalam teori organisasi
keuletan menggambarkan kemampuan untuk menyerap tekanan dan menjaga (atau
memperbaiki) fungsinya, ditengah kesulitan. Keuletan dapat ditumbuhkan dan
dibentuk dalam suatu organisasi. Organisasi dapat mengembangkan keuletan
melalui beberapa kompetensi, yaitu proses memikirkan secara mendalam dan proses
mengalihkan sumber daya dengan cara yang berbeda.
3.
Semangat
Berhasil tidaknya suatu
organisasi ditentukan oleh unsur manusia yang melakukan pekerjaan sehingga
perlu adanya balas jasa terhadap karyawan sesuai dengan sifat dan keadaannya.
Begitu pentingnya peran karyawan maka perusahaan perlu memberikan semangat
kerja kepada karyawan dan dapat merangsang karyawan untuk dapat bekerja dengan
giat sehingga dapat meyelesaikan pekerjaan tepat waktu, hal ini akan
mempengaruhi tingkat produktivitas karyawan untuk tercapainya tujuan
perusahaan.
3.
Kebanggaan
Kecakapan dalam mengemban
tugas yang di amanatkan oleh perusahaan kepada para pegawai adalah sesuatu yang
sangat di harapkan oleh manajemen perusahaan. Dan sungguh akan menjadi suatu
kebanggaan bagi para pegawai. Salah satu keberhasilan suatu pegawai dalam
menjalankan tugasnya adalah keharmonisan di dalam suasana lingkungan bekerja.
b.Faktor-faktor
Internal
1.
Budaya
Faktor internal yang
terpenting adalah budaya di dalam organisasi itu sendiri, yang meliputi
keyakinan bersama, nilai-nilai hidup yang dianut, norma-norma perilaku serta
asumsi-asumsi yang implisit diterima dan secara eksplisit dimanifestasikan di
seluruh jajaran organisasi. Norma-norma budaya sangatlah penting karena hal
tersebut bisa menjelaskan mengapa dua perusahaan dengan sistem pengendalian
manajemen formal yang sama, bervariasi dalam hal pengendalian aktual.
Budaya sebuah perusahaan
biasanya tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Budaya organisasional juga
sangat dipengaruhi oleh personalitas dan kebijakan CEO, serta oleh personalitas
dan kebijakan para manajer pada tingkat yang lebih rendah di area-area yang
menjadi tanggung jawab mereka. Jika organisasi memiliki sebuah serikat pekerja,
maka aturan-aturan dan norma-norma yang ditetapkan oleh serikat pekerja juga
berpengaruh besar pada budaya organisasi perusahaan. Upaya-upaya untuk mengubah
peraturan selalu mendapatkan perlawanan, dan semakin besar serta lamanya sebuah
perusahaan, maka perlawanannya pun akan semakin besar.
2.
Gaya Manajemen
Faktor
internal yang barangkali memiliki dampak yang paling kuat terhadap pengendalian
manajemen adalah gaya manajemen. Biasanya, sikap-sikap bawahan mencerminkan apa
yang mereka anggap sebagai sikap atasan mereka, dan sikap para atasan itu pada
akhirnya berpijak pada apa yang menjadi sikap CEO. Para manajer memiliki
kualitas dan gaya yang beragam. Beberapa diantaranya memilki kharisma dan
ramah, sementara yang lain ada yang bergaya agak santai. Ada manajer yang
banyak melewatkan waktunya dengan melihat-lihat dan berbicara pada banyak orang
manajemen dengan cara berkeliling (management by walking around),
sementara ada juga manajer yang menyibukkan dirinya dengan menulis laporan.
3.
Organisasi Informal
Garis-garis dalam bagan
organisasi menggambarkan hubungan-hubungan formal yaitu, pemegang otoritas
resmi dan bertanggung jawab dari setiap manajer. Kenyataan-kenyataan yang
ditemui selama berlangsungnya proses pengendalian manajemen tidak bisa
dipahami tanpa mengenali arti penting dari hubungan-hubungan yang menyusun di
organisasi yang bersifat informal.
4.
Persepsi dan Komunikasi
Dalam upaya meraih
tujuan-tujuan organisasi, para manajer operasi harus mengetahui tujuan dan
tindakan-tindakan yang harus diambil untuk mencapainya. Mereka menyerap
informasi ini dari berbagai jalur, baik itu jalur formal (seperti anggaran dan
dokumen-dokumen resmi lainnya) ataupun jalur informal (seperti dari bahan
obrolan yang tidak resmi). Meskipun jalurnya sangat beragam, namun tidak selalu
jelas apa yang sesungguhnya diinginkan oleh pihak manajer senior. Sebuah
organisasi adalah sebuah entitas yang kompleks dan tindakan-tindakan yang
diambil oleh berbagai bagian dari organisasi untuk mencapai tujuan bersama tersebut
tidak bisa dinyatakan secara jelas, bahkan dalam situasi yang terbaik
sekalipun.
Pesan-pesan yang diserap
dari berbagai sumber ini bisa jadi bertentangan satu sama lain, atau bahkan
memiliki interpretasi yang sangat beragam. Maka komunikasi perlu dibangun untuk
menyamakan persepsi.
5.
Kerjasama dan Konflik
Garis-garis yang
menghubungkan kotak-kotak dalam bagan organisasi dicapai adalah dimana
manajemen senior membuat keputusan dan mengkomunikasikan keputusan tersebut
melalui hierarki organisasi ke manajer pada tingkat yang lebih rendah. Hal ini
mengabaikan tujuan pribadi masing-masing individu.
D. Sistem Pengendalian Formal
Faktor-faktor informal
memiliki pengaruh besar pada efektifitas sistem pengendalian manajemen.
Pengaruh besar lainnya adalah sistem yang bersifat formal. Sistem ini bisa kita
klasifikasikan ke dalam dua jenis :
(1) sistem pengendalian
manajemen itu sendiri dan
(2) aturan-aturan
·
Aturan-aturan
Kita menggunakan istilah
aturan-aturan sebagai seperangkat tulisan yang memuat semua jenis instruksi dan
pengendalian, termasuk didalamnya adalah instruksi-instruksi jabatan, pembagian
kerja, prosedur standar operasi, panduan-panduan, dan tuntunan-tuntunan etis.
Aturan-aturan itu beragam sifatnya mulai dari yang sangat remeh hingga aturan
yang sangat penting. Tidak seperti arahan-arahan yang bersifat implisit dalam
jumlah anggaran, yang bisa berubah dari bulan ke bulan, hampir semua
aturan biasanya bersifat jangka panjang, yaitu aturan-aturan tersebut akan
selalu ada sampai aturan-aturan itu dimodifikasi, yang jarang terjadi.
Berikut ini beberapa
jenis aturan diantaranya :
a.
Pengendalian Fisik
Penjaga keamanan,
gudang-gudang yang terkunci, ruangan besi, password komputer, televisi
pengawas, dan pengendalian fisik lainnya merupakan bagian dari struktur
pengendalian.
b.
Manual
Ada banyak pertimbangan
untuk memutuskan aturan-aturan mana yang harus dituliskan ke dalam panduan,
mana yang mesti diklasifikasikan sebagai pedoman, seberapa banyak toleransi
yang diperbolehkan dan beberapa pertimbangan lainnya. Manual dalam organisasi
birokratis jauh lebih rinci dibandingkan dengan aturan organisasi lain.
Organisasi besar memilki panduan dan aturan yang lebih banyak dibandingkan
dengan organisasi-organisasi lain yang lebih kecil. Organisasi yang tersentralisasi
memiliki banyak aturan dibandingkan dengan organisasi yang terdesentralisasi.
Dan yang terakhir, organisasi memiliki unit-unit yang tersebar secara geografis
(seperti jaringan restoran cepat saji) mempunyai lebih banyak aturan
dibandingkan dengan organisasi yang terpusat secara geografis.
Dengan berlalunya waktu,
sejumlah aturan akan menjadi kedaluwarsa. Oleh karena itu, harus dikaji ulang
secara berkala untuk memastikan bahwa masih sesuai dengan apa yang diharapkan
oleh manajemen senior.
c.
Pengamanan Sistem
Berbagai pengamanan
sistem dirancang kedalam sistem pemrosesan informasi untuk menjamin agar
informasi yang mengalir melalui sistem itu akan bersifat akurat dan untuk
mencegah kecurangan. Hal ini meliputi pemeriksaan silang secara terinci,
pembubuhan tanda tangan dan bukti-bukti lain bahwa sebuah transaksi telah
dijalankan, melakukan pemilihan, menghitung uang yang ada dan aktiva-aktiva
yang mudah dibawa sesering mungkin, serta sejumlah prosedur lain. Hal tersebut
juga mencakup pengecekan sistem yang dilakukan oleh auditor internal dan
eksternal.
d.
Sistem Pengendalian Tugas
Pengendalian tugas
didefinisikan sebagai proses untuk menjamin bahwa tugas-tugas tertentu
dijalankan secara efektif dan efisisen. Kebanyakan dari tugas-tugas itu
dikendalikan melalui peraturan-peraturan. Jika sebuah tugas dijalankan
menggunakan mesin otomatis, maka sistem otomatis itu sendiri akan menyediakan
pengendalian.
·
Proses Kendali Secara Formal
Suatu perencanaan
strategis akan melaksanakan tujuan dan strategi organisasi. Seluruh informasi
yang tersedia dipergunakan untuk membuat perencanaan ini. Perencanaan strategis
tersebut kemudian di konversi menjadi anggaran tahunan yang fokus pada
pendapatan dan belanja yang direncanakan untuk masing-masing pusat tanggung
jawab. Pusat tanggung jawab ini juga dituntun oleh aturan-aturan dan infornasi
formal lain. Pusat tanggung jawab menjalankan operasi-operasi yang ditugaskan,
dan hasilnya kemudian di nilai dan dilaporkan. Hasil-hasil aktual kemudian
dibandingkan dengan anggaran untuk menentukan apakah kinerjanya memuaskan atau
tidak. Jika memuaskan, maka pusat tanggung jawab menerima umpan balik dalam
bentuk pujian atau penghargaan lain. Jika tidak memuaskan, maka umpan balik
yang diterima akan mendorong dilakukannya tindakan-tindakan korektif di pusat
tanggungjawab serta kemungkinan dilakukannya revisi dalam rencana.
E. Jenis-jenis Organisasi
Strategi suatu perusahaan
memiliki pengaruh yang besar terhadap strukturnya. Pada gilirannya, jenis
struktur akan memengaruhi rancangan sistem pengendalian manajemen organisasi.
Meskipun kualitas dan ukuran organisasi itu sangat beragam, setidaknya
organisasi bisa dikelompokkan ke dalam tiga kategori umum :
1).
Struktur organisasi fungsional, didalamnya setiap manajer
bertanggung jawab atas fungsi-fungsi yang terspesialisasi seperti produksi atau
pemasaran.
Alasan dibalik bentuk
organisasi fungsional melibatkan gagasan mengenai seseorang manajer yang
memiliki pengetahuan khusus adalah untuk mengambil keputusan yang berkaitan
dengan fungsi spesifik, yang berlawanan dengan manajer umum kurang memiliki
pengetahuan khusus. Manajer yang memiliki pengetahuan khusus kemungkinan besar
akan mampu mengambil keputusan yang lebih baik dibidangnya masing-masing
dibandingkan dengan seorang manajer yang bertanggung jawab atas beberapa bidang
sekaligus. Seorang spesialis lebih melakukan supervisi dalam bidang yang sama
secara lebih baik dibandingkan dengan seorang manajer generalis. Oleh karena
itu, keuntungan terpenting dari struktur fungsional adalah efisiensi.
Ada sejumlah kelemahan
pada struktur organisasi fungsional, yaitu :
Pertama, dalam
sebuah organisasi fungsional terdapat ketidakjelasan dalam menentukan
efektivitas manajer fungsional secara terpisah (seperti manajer produksi dan
manajer pemasaran) karena tiap fungsi tersebut sama-sama memberikan kontribusi
pada hasil akhir. Oleh karena itu, tidak ada cara untuk menentukan bagian dari
laba yang dihasilkan masing-masing fungsi.
Kedua, jika
organisasi terdiri dari beberapa manajer yang bekerja dalam satu fungsi yang
melapor ke beberapa manajer pada tingkat yang lebih tinggi dari fungsi
tersebut, maka perselisihan antar para manajer dari fungsi-fungsi berbeda hanya
dapat diselesaikan di tingkat atas, meskipun perselisihan itu berasal dari
tingkatan organisasi yang lebih rendah.
Ketiga,
struktur organisasi fungsional tidak memadai untuk diterapkan pada sebuah
perusahaan dengan produk dan pasar yang beragam.
Kelemahan ini bisa
dikurangi dengan cara melengkapi struktur fungsional vertikal yang ada dengan
proses-proses lintas fungsi yang saling berhubungan seperti rotasi bidang
lintas fungsi dan penghargaan berdasarkan kerja sama tim.
2).
Struktur unit bisnis, didalamnya para unit manager bertanggung jawab atas
aktivitas-aktivitas dari masing-masing unit, dan unit bisnis berfungsi sebagai
bagian independen dari perusahaan.
Bentuk organisasi unit
bisnis dari organisasi dirancang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang
terdapat pada struktur organisasi fungsional. Suatu unit bisnis, yang juga
disebut sebagai divisi, bertanggung jawab atas seluruh fungsi yang ada dalam
produksi dan pemasaran sebuah produk. Unit bisnis tersebut bertanggung jawab
untuk melakukan perencanaan dan koordinasi kerja dari berbagai fungsi yang
terpisah.
Meskipun manajemen unit
bisnis menjalankan wewenang yang sangat luas terhadap unit-unitnya, kantor
pusat tetap memiliki sejumlah hak prerogatif. Setidaknya kantor pusat
bertanggungjawab untuk memperoleh dana bagi perusahaan secara keseluruhan dan
mengalokasikannya ke berbagai unit bisnis sesuai dengan pemanfaatannya secara
maksimal.
Kantor pusat juga
memberikan persetujuan atas anggaran dan melakukan penilaian kinerja para
manajer unit bisnis, memberikan kompensasi serta, menentukan wilayah geografis
di mana unit bisnis dapat beroperasi, dan kadang-kadang menentukan ke konsumen
mana produk akan dijual.
Kantor pusat juga
menetapkan kebijakan-kebijakan yang berlaku untuk seluruh lingkup area
perusahaan, yang tergantung dari kebijakan CEO, dapat berjumlah sedikit dan bersifat
umum, atau dikodifikasikan ke dalam beberapa manual yang tebal. Para staf
pejabat kantor pusat bisa saja membantu unit-unit bisnis dalam aktivitisa
produksi dan pemasaran dalam ruang lingkup yang khusus, seperti sumber daya
manusia, urusan-urusan legal, hubungan masyarakat, dan pengendalian serta
hal-hal yang berkaitan dengan keuangan. Fungsi-fungsi kantor pusat ini
sangatlah penting, tanpa peranan kantor pusat, maka unit-unit bisnis akan lebih
berfungsi sebagai perusahaan-perusahaan yang terpisah.
Keunggulan organisasi
unit bisnis adalah struktur ini bisa berfungsi sebagai tempat pelatihan bagi
manajemen secara umum, unit bisnis lebih dekat dengan pasar dari
produk-produknya dibandingkan. dengan kantor pusat, maka para manajer unit
bisnis dapat membuat keputusan-keputusan produksi dan pemasaran yang lebih baik
dibandingkan dengan cara yang diputuskan oleh kantor pusat, dapat memberikan
reaksi yang cepat terhadap ancaman-ancaman atau peluang baru.
Kelemahan
dari unit bisnis adalah adanya kemungkinan masing-masing staf unit bisnis
menduplikasi sejumlah pekerjaan yang dalam organisasi fungsional, dikerjakan di
kantor pusat. Seorang manajer unit bisnis pada hakikatnya adalah seorang
generalis, akan tetapi para bawahannya adalah para spesialis fungsional dan
mereka harus berurusan dengan masalah-masalah yang sama seperti yang dihadapi
oleh para spesialis yang ada di kantor pusat maupun di unit-unit bisnis
lainnya. Dalam sejumlah kasus, jajaran staf unit bisnis lebih banyak memakan
biaya dibanding dengan nilai yang diperoleh melalui divisionalisasi.Lebih jauh lagi, jumlah para spesialis
sangat sedikit, mungkin kesulitan dalam memperoleh orang-orang yang
berkualitas. Masalah-masalah ini dapat dikurangi dengan cara melengkapi
organisasi unit bisnis ini dengan keahlian fungsional tertentu secara terpusat.
Kelemahan lain adalah
bahwa perselisihan yang terjadi di antara spesialis fungsional dalam organisasi
perusahaan fungsional digantikan dengan perselisihan di antara unit-unit bisnis
dalam organisasi unit bisnis. Hal ini bisa mendorong terjadinya pelanggaran
oleh suatu unit bisnis terhadap piagam unit bisnis yang lain. Bisa juga terjadi
konflik antara pegawai unit bisnis dengan para staf di kantor pusat.
3).
Struktur organisasi matriks, di dalamnya unit-unit fungsional memiliki
tanggung jawab ganda.
Struktur organisasi ini
merupakan kombinasi antara struktur organisasi fungsional dan unit bisnis, yang
ditujukan untuk memanfaatkan keunggulan dari masing-masing struktur organisasi.
Struktur organisasi membentuk beberapa fungsi organisasi yang bertanggung jawab
untuk membantu beberapa unit bisnis yang dilakukan. Sehingga struktur ini dapat
memanfaatkan efisiensi setiap fungsi organisasi dan keputusan setiap unit
bisnis dapat dilakukan dengan sesuai dan cepat oleh masing-masing unit bisnis.
Dalam organisasi matriks
untuk melakukan suatu proyek, manajer suatu proyek selain bertanggung jawab
atas proyeknya juga bertanggung jawab terhadap unit fungsional. Organisasi
proyek merupakan organisasi sementara (dibentuk kemudian dibubarkan jika
selesai).
Jika para anggota tim
proyek ditarik dari organisasi yang mensponsorinya, mereka akan mempunyai 2
atasan yakni manajer proyek dan manajer departemen fungsional tempat mereka
bertugas. Namun loyalitasnya adalah tetap pada departemen fungsional.
Manajer proyek mempunyai wewenang yang lebih kecil atas personelnya.
Struktur organisasi ini
merupakan kombinasi antara struktur organisasi fungsional dan unit bisnis, yang
ditujukan untuk memanfaatkan keunggulan dari masing-masing struktur organisasi.
Struktur organisasi membentuk beberapa fungsi organisasi yang bertanggung jawab
untuk membantu beberapa unit bisnis yang dilakukan. Sehingga struktur ini dapat
memanfaatkan efisiensi setiap fungsi organisasi dan keputusan setiap unit
bisnis dapat dilakukan dengan sesuai dan cepat oleh masing-masing unit bisnis.
E. Fungsi Kontroler
Controller
adalah orang yang bertugas merancang, mengoperasikan dan mengawasi kegiatan
untuk menjamin keberhasilan sistem pengendalian manajemen ke arah pencapaian tujuan.
Sebenarnya, di banyak organisasi, jabatan orang ini adalah Chief Financial Officer (CFO).
Kontroler biasanya
menjalankan fungsi-fungsi sebagai berikut:
1. Merancang
dan mengoperasikan informasi serta sistem pengendalian.
2. Menyiapkan
pernyataan keuangan dan laporan keuangan (termasuk pengembalian pajak) kepada
para pemegang saham dan pihak-pihak eksternal lainnya.
3. Menyiapkan
dan menganalisis laporan kinerja, menginterpretasikan laporan-laporan ini untuk
para manajer, menganalisis program dan proposal-proposal anggaran dari berbagai
segmen perusahaan serta mengkonsolidasikannya ke dalam anggaran tahunan secara
keseluruhan.
4. Melakukan
supervisi audit internal dan mencatat prosedur-prosedur pengendalian untuk
menjamin validitas informasi, menetapkan pengamanan yang memadai terhadap
pencurian dan kecurangan serta menjalankan audit operasional.
5. Mengembangkan
personel dalam organisasi pengendali dan berpartisipasi dalam pendidikan
personal manajemen dalam kaitannya dengan fungsi pengendali.
Sebelum
adanya kemajuan komputer, kontroler (atau CFO) biasanya bertanggung jawab untuk
memproses informasi yang dibutuhkan oleh sistem pengendalian manajemen.
Sekarang ini, banyak perusahaan yang memiliki Chief Information Officer (CIO)
yang melaksanakan tanggung jawab ini. Dalam sejumlah perusahaan, CIO melapor ke
CFO, sementara pada beberapa perusahaan lainnya, CIO memberikan laporan
langsung kepada manajemen senior.
Dalam organisasi matriks
untuk melakukan suatu proyek, manajer suatu proyek selain bertanggung jawab
atas proyeknya juga bertanggung jawab terhadap unit fungsional. Organisasi
proyek merupakan organisasi sementara (dibentuk kemudian dibubarkan jika
selesai).
Jika para anggota tim
proyek ditarik dari organisasi yang mensponsorinya, mereka akan mempunyai 2
atasan yakni manajer proyek dan manajer departemen fungsional tempat mereka
bertugas. Namun loyalitasnya adalah tetap pada departemen fungsional.
Manajer proyek mempunyai wewenang yang lebih kecil atas personelnya.
·
Relasi ke Jajaran Organisasi
Fungsi
pengendalian adalah fungsi staf. Meskipun seorang kontroler biasanya
bertanggung jawab untuk merancang maupun rnengoperasikan sistem yang
mengumpulkan dan melaporkan informasi,pemanfaatan informasi
ini adalah tanggung jawab jajaran manajemen. Seorang pengendali barangkali
bertanggung jawab untuk mengembangkan dan menganalisis tolak ukur yang
digunakan untuk melakukan pengendalian serta merekomendasikan tindakan-tindakan
yang diperlukan ke pihak manajemen. Kemungkinan-kemungkinan lainnya mencakup
memonitor ketaatan pada batas-batas pengeluaran yang sudah ditetapkan oleh
kepala eksekutif, mengendalikan integritas sistem pencatatan serta menjaga
aktiva perusahaan dari pencurian dan penipuan.
Kontroler tidak membuat
ataupun mendorong pihak manajemen untuk mengambil keputusan. Tanggung jawab
untuk menjalankan pengendalian sesungguhnya berasal dari CEO lalu turun ke
bawah melalui jalur organisasi.
Kontroler juga membuat
keputusan, khususnya mengenai penerapan kebijakan yang ditetapkan oleh jajaran
manajemen. Para kontroler juga memainkan peranan penting dalam mempersiapkan
perencanaan strategis dan anggaran. Mereka sering diminta melakukan penelitian
secara cermat atas laporan kinerja untuk menjamin akurasi dan untuk menarik
perhatian jajaran manajer terhadap pos-pos yang membutuhkan penyelidikan lebih
lanjut. Dalam kapasitas ini, para kontroler bertindak seperti layaknya manajer,
kepada siapa para manajer bawahan bertanggung jawab.
·
Kontroller Unit Bisnis
Kontroller unit bisnis
mempunyai dua pimpinan, yaitu Corporate Controller yang bertanggung jawab pada
sistem pengendalian secara keseluruhan dalam organisasi dan disisi lain dia
juga mempunyai tanggung jawab pada manajer unit bisnis yang dibantunya. Pada
beberapa organisasi controller divisi melaporkan tugasnya pada manajer unit bisnis
dan hubungannya dengan corporate controller tidak langsung. Ada juga organisasi
yang menetapkan controller divisi melaporkan tugasnya pada corporate
controller.
Di
beberapa perusahaan, kontroller unit bisnis memberikan laporan kepada manajer
unit bisnis dan mereka dihubungkan dengan garis putus-putus ke
kontroller korporat. Disini, manajer umum unit bisnis adalah atasan langsung
kontoller, dan dia memiliki wewenang dalam mempekerjakan, melatih, memindahkan,
memberikan kompensasi, mempromosikan, dan memecat para kontroller di unit yang
bersangkutan. Akan tetapi, keputusan seperti ini jarang dibuat tanpa masukan
dari kontroller korporat.
Di perusahaan-perusahaan
lain, para kontroller unit bisnis memberikan laporan secara langsung kepada
kontoller korporat. Kontroller korporat ini merupakan atasan mereka.
Ada sejumlah permasalahan
yang ditemui pada masing-masing hubungan ini. Jika para kontroller unit bisnis
terutama bekerja untuk manajer unit bisnisnya, ada kemungkinan bahwa dia tidak
akan memberikan laporan yang objektif mengenai anggaran dan kinerja unit bisnis
kepada manajer senior. Di sisi lain, jika kontroller unit bisnis terutama
bekerja untuk kontroller korporat maka manajer unit bisnis akan
memperlakukannya lebih sebagai seorang “mata-mata dari kantor pusat” dan bukan
sebagai seorang mitra kerja terpercaya.
0 komentar:
Posting Komentar
bagi siapa kritik atau melengkapi posttingan blog ini kami disini terbuka.